Feed on
Posts
comments

“adiiiiiii…”
seperti sapa rika akana pada kenchi di serial tv: tokyo love story
kadang dengan intonasi lembut: ‘adi…” saat bagun dari tidur
atau panggilan lemah: ‘adi’ dengan senyum tersisa
saat batuk dan flu yang tak bisa dihindari
abi instead of adi
panggilan mini me: fahri, padaku yang kini sedang ku kangeni
lafal yang tak sempurna namun meluruhkan hati
ya mau gimana lagi, proses pengucapan tentunya berjalan alami…
tak ada pilihan lain selain menikmati
setiap tutur ucap dan tingkah lakunya: the object of my affection
memberi warna tersendiri
yang ku rindukan setengah mati, kini, di sini

Free Image Hosting at www.ImageShack.us

QuickPost Quickpost this image to Myspace, Digg, Facebook, and others!

exhausted…

flu yang tak kunjung reda…

hasil yang kurang maksimal…

harus berbuat lebih giat…

lebih semangat…

hap hap hap…

*coba terus bersyukur walau semangat kecebur lumpur*

sing me something new…

playlist yang sama

aura yang sama

pandangan yang sama

pemandangan yang sama

bahasan yang sama

tugas yang sama

ah, ah, ah…

lingkaran yang sama…

adakah ruas, untuk diretas…

adakah lagu baru, tak perlu merdu…

cukup saja berbeda…

memberi riang ria…

kalau memang ada…

nyanyikan satu untukku…

selamat ulang tahun indonesia
semoga engkau benar-benar merdeka
entah kapan: segera
di antara retorika
di antara pestapora
semoga tidak sebatas gandrung seremoni
semoga lebih memberi solusi
untuk anak negeri

dengan mengkonsumsi produk dalam negeri
dengan mencintai bangsa sendiri
dengan menjaga budaya tetap lestari
dengan apa sajalah

membangun jiwa
membangun raga
untuk indonesia
untuk hal-hal yang nyata

no sport for today

padahal kerjaan dah slow machine, laporan dah ttd dan masuk penjilidan.
tapi emang bener kata si bos dulu, kerjaan ga ada abisnya, kalo abis, tutup aja perusahaannya… hehehe
selesai monthly routine, daily routine dah antri, ga ada kayaknya ruang buat ngisep udara bebas lama-lama. like a sysiphe, he said [damn! i do will out of this stigmata]
belum menjamah that daily routine things, sepertinya kala dimuka akan ada kerjaan rutin triwulanan *proyek tangan kanan yang seyogyanya tangan kiri tak perlu tau* gpp juga sih lillahi ta ala aja…
dimulai hari ini, tadi tepatnya, ikut berbelanja membeli bahan yang diperlukan dan mengepaknya. dan itu memakai waktu untuk menuntaskan janji pada rekan. jadinya setelah pengepakan selesai, giliran evaluasi dokumen untuk dilunasi *walau tidak kelar juga, karena ternyata datanya kurang*. karena ini membuat tidak serta belanja sesi 2, melengkapi atas dana yang tersisa. *maaf teman, ada yang harus lebih diprioritaskan*
tentu saja ada saat dimana waktu terasa menguap, time flies katanya. jam 4:10. belum solat, masih ada urusan yang belum selesai. padahal giliran tubuh untuk berpeluh. huh, dengan berat hati, tak ada olah tubuh hari ini *maaf ya… mungkin besok kita berlari-larian saja mengejar bola dan mengarahkannya ke gawang lawan, itupun bila tidak mengantar pulang kasih tersayang*

we are carrier

innalillahi wa inailaihi rajiun…
mama telfon kasih kabar kalau teh ilah meninggal
kamis jam 10 pagi di rumah sakit
penyakitnya sudah menjalar
berawal dari diagnosa kanker rahim
gosh, we are really carrier of cancer
after my dad, my other sister then her
terakhir sempet tengok di RSCM
tubuh yang surut walau semangatnya tetap menyala-nyala
tipikal yang saya kenal sejak sedia kala
whatever happened, happened.
semoga tenang di alam yang berbeda
semoga lebih baik di sana
amin.

far behind

Intothewildalbumcoveryw4_1

 







Take Leave
the conscious mind

Found myself

to be so inclined

Why sleep

in discontent?

Oh the price

of companionship

My shadow runs with me

underneath the Big Wide Sun

My shadow comes with me

as we leave it all

we leave it all Far Behind

Empty pockets will

Allow a greater

Sense of wealth

Why contain yourself

Like any other

Book on the shelf

My shadow lays with me

underneath the Big Wide Sun

My shadow stays with me

as we leave it all

we leave it all Far Behind

Subtle voices in the wind,

Hear the truth they’re telling

A world begins where the road ends

Watch me leave it all behind

Far Behind

Far Behind

by eddie vedder

hypocrazy

ng*#3!

 
from now on: i trust no one!

muke!

emang ga semestinya gue keki.

tapi gue ga bisa nahan rasa aneh yang ada…

lucu mungkin tepatnya…

[atau elu yang lugu?]

let’s say gue naïf

reject the opportunity…

[because have no guts?]

[or not ready to fight?]

goddamn melancholy!

why should i have to be well prepared for feeling steady?

 

dan orang-orang itu…

yang tak memberi support itu…

ternyata mengambil bagian…

[serasa ditikam dari belakang?]

[tak seharusnya merasa demikian…]

[just respect your decision]

[berusaha tak mentautkannya dengan yang lain]

[that’s all]

[no regret!]

[-even it’s letting somebody down]

['cause regret never change anything]

yeah, me disappointing the rest of them

and my lovely

while the others are dancing queen…

me stuck on this monthly routine…

m@ny0N6!

ps: doooh bolehnya sewot…

relativitas

cerita hari kemarin, selepas 20 menit dari pukul dua belas, mata ini demikian berat. kantuk yang tertahan sejak pagi hari, runtuh juga akhirnya. tangan kanan ini menarik bantal batman hitam yang bergaris dan bertulisan kuning itu dari sandaran kursi di belakang pinggang ke atas meja.

ahhh, indahnya dunia. mata memejam pasrah bersamaan dengan sentuhan halus permukaan bantal pada pipi kiri yang menopang keseluruhan berat kepala. seolah menyangga berat beban hidup sementara waktu *ok. silahkan lempar! gw juga ga ngerti nulis apa. hehe*

damai dan hilang. terasa begitu lama sampai terbangun seketika: aha, masih jam 12:25, berarti tadi terlelap hanya 5 menit, mengapa terasa begitu lama…? tak berpikir panjang, lalu kembali mata memejam. seketika hilang. lompat dari dunia sarat kemunafikan. damai dalam ketidaksadaran. sampai terbangun lagi, dan otomatis mata menatap jarum jam yang melekat di dinding 40 derajat dari pandangan *iya jarumnya ada didalam jam dan jamnya melekat di dinding…* 12:33. berarti 8 menit saja tambahan tidur siang itu. betapa terasa begitu lama. cukup untuk memulihkan penat hari-hari kemarin. melunasi insomnia beberapa malam sebelumnya. untuk lagi kembali pada kertas dan angka. pada dunia semi-statis di layar kaca.

sore hari, rute pulang tidak lagi sama. dengan teman berbeda, sang penunjuk arah. aku mengekor. panjang jarak yang tertempuh. dengan trayek dan kendara berbeda. jarak yang sama terasa berbeda juga. setelah sampai tujuan. singgah sebentar di rumah kawan. menumpang mandi -yang tidak lupa juga gosok gigi, habis mandi ke kediaman sementara, berganti sandang mematut di cermin baru, beli hari sabtu lalu. bergegas. kembali ke kantor kita tuju. berganti kendara menjemput mitra kerja.

menuju hidangan jepang kita bersantap malam. pengalaman yang tidak terlalu baru *kecuali tempat yang perdana disinggahi* semua berjalan sebagaimana mestinya. mencairkan beku es. menghangatkan suasana. hingga kenyang. hingga teler makan udang *sepertinya tersisip juga kepiting, karena diakhir, terasa sedikit pening, ehm, agak alergi dengan hidangan yang satu itu* dan jamuan pun dihentikan. *bukan karena teler kepiting, tapi memang sudah malam*

perjalanan pulang, mencari kedai penjual air minum mineral botol besar. ‘botol di hotel kecil-kecil’ kata sang mitra. dan kita menyusuri kota, sampai pada ide melancong ke kawasan penjaja dosa. pak sopir tak pernah punya pilihan selain mengamini juragan. aku sendiri pasrah menahan kantuk yang sedari tadi mengetuk katup dan kelopak mata *campur hati riang hina dan berharap mungkin mata akan segar seketika mendapati pemandangan berbeda*

kaca akuarium berisi manusia-manusia menanti pembeli. aneka bentuk aneka rupa. kanan-kiri. jalanan sesak manusia lain yang umumnya lelaki, penjaja atau pembeli, tak berniat untuk mengamati. kendara berjalan pelan, mengikuti arus manusia-manusia. mata ini bergerilya kesana-kemari. mencari-cari panorama yang dapat melunasi nafsu yang mulai membudaki. sampai ujung gang. sampai kembali pada awam kehidupan. kita kembali melaju. air mineral botol besar yang kembali dituju. sampai akhirnya bertemu kedai pinggir jalan. tunai sudah keinginan. mengantarkan mitra pulang.

selanjutnya kami mendapat giliran, melalui rute sore tadi, mungkin, karena setengah tertidur, atau memang tertidur. sampai di depan rumah kawan. terbangun dan turun dari kendara untuk menginap disana. tanpa basa-basi bergeletak di atas karpet bersiap melanjutkan tidur yang tertunda. kemudian pindah ke kasur udara hingga pagi tiba. pagi! cepat sekali! tak terasa, sepertinya kesadaran hilang baru saja.

sick

I see a cup of tea on the table
I grab and taste it
but it taste like a beer, it’s not a tea

I see a cup of coffee on the table
I grab and taste it
but it taste like a coke, it’s not a coffee

I see a red rose bloom in the garden
I grab and smell it
but it smell like shit, it make me sick

I see a dirty sock, behind the door
I think the smell real bad
but it smell so good, so what is it???!!!

so what wrong with me?

why all seem to be, really, looked so fake for me?

make me sick

/rif

Older Posts »