cerita hari kemarin, selepas 20 menit dari pukul dua belas, mata ini demikian berat. kantuk yang tertahan sejak pagi hari, runtuh juga akhirnya. tangan kanan ini menarik bantal batman hitam yang bergaris dan bertulisan kuning itu dari sandaran kursi di belakang pinggang ke atas meja.
ahhh, indahnya dunia. mata memejam pasrah bersamaan dengan sentuhan halus permukaan bantal pada pipi kiri yang menopang keseluruhan berat kepala. seolah menyangga berat beban hidup sementara waktu *ok. silahkan lempar! gw juga ga ngerti nulis apa. hehe*
damai dan hilang. terasa begitu lama sampai terbangun seketika: aha, masih jam 12:25, berarti tadi terlelap hanya 5 menit, mengapa terasa begitu lama…? tak berpikir panjang, lalu kembali mata memejam. seketika hilang. lompat dari dunia sarat kemunafikan. damai dalam ketidaksadaran. sampai terbangun lagi, dan otomatis mata menatap jarum jam yang melekat di dinding 40 derajat dari pandangan *iya jarumnya ada didalam jam dan jamnya melekat di dinding…* 12:33. berarti 8 menit saja tambahan tidur siang itu. betapa terasa begitu lama. cukup untuk memulihkan penat hari-hari kemarin. melunasi insomnia beberapa malam sebelumnya. untuk lagi kembali pada kertas dan angka. pada dunia semi-statis di layar kaca.
sore hari, rute pulang tidak lagi sama. dengan teman berbeda, sang penunjuk arah. aku mengekor. panjang jarak yang tertempuh. dengan trayek dan kendara berbeda. jarak yang sama terasa berbeda juga. setelah sampai tujuan. singgah sebentar di rumah kawan. menumpang mandi -yang tidak lupa juga gosok gigi, habis mandi ke kediaman sementara, berganti sandang mematut di cermin baru, beli hari sabtu lalu. bergegas. kembali ke kantor kita tuju. berganti kendara menjemput mitra kerja.
menuju hidangan jepang kita bersantap malam. pengalaman yang tidak terlalu baru *kecuali tempat yang perdana disinggahi* semua berjalan sebagaimana mestinya. mencairkan beku es. menghangatkan suasana. hingga kenyang. hingga teler makan udang *sepertinya tersisip juga kepiting, karena diakhir, terasa sedikit pening, ehm, agak alergi dengan hidangan yang satu itu* dan jamuan pun dihentikan. *bukan karena teler kepiting, tapi memang sudah malam*
perjalanan pulang, mencari kedai penjual air minum mineral botol besar. ‘botol di hotel kecil-kecil’ kata sang mitra. dan kita menyusuri kota, sampai pada ide melancong ke kawasan penjaja dosa. pak sopir tak pernah punya pilihan selain mengamini juragan. aku sendiri pasrah menahan kantuk yang sedari tadi mengetuk katup dan kelopak mata *campur hati riang hina dan berharap mungkin mata akan segar seketika mendapati pemandangan berbeda*
kaca akuarium berisi manusia-manusia menanti pembeli. aneka bentuk aneka rupa. kanan-kiri. jalanan sesak manusia lain yang umumnya lelaki, penjaja atau pembeli, tak berniat untuk mengamati. kendara berjalan pelan, mengikuti arus manusia-manusia. mata ini bergerilya kesana-kemari. mencari-cari panorama yang dapat melunasi nafsu yang mulai membudaki. sampai ujung gang. sampai kembali pada awam kehidupan. kita kembali melaju. air mineral botol besar yang kembali dituju. sampai akhirnya bertemu kedai pinggir jalan. tunai sudah keinginan. mengantarkan mitra pulang.
selanjutnya kami mendapat giliran, melalui rute sore tadi, mungkin, karena setengah tertidur, atau memang tertidur. sampai di depan rumah kawan. terbangun dan turun dari kendara untuk menginap disana. tanpa basa-basi bergeletak di atas karpet bersiap melanjutkan tidur yang tertunda. kemudian pindah ke kasur udara hingga pagi tiba. pagi! cepat sekali! tak terasa, sepertinya kesadaran hilang baru saja.